Dukung Peningkatan Mutu dan Daya Saing...
LEMBANG — Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran (BRMP Sayuran) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Konsep Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) Bawang Putih (Allium sativum L.) secara hybrid di Ruang Display BRMP Sayuran, Lembang, Jawa Barat, Senin (24/8/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penyusunan konsep RSNI Bawang Putih sebagai langkah untuk memperbarui dan menyempurnakan standar mutu bawang putih yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan di lapangan. Penyusunan standar tersebut diharapkan dapat memberikan acuan yang jelas bagi pelaku usaha sekaligus mendukung tersedianya bawang putih konsumsi yang bermutu dan aman bagi masyarakat.
Dalam sambutannya mewakili Kepala BRMP Sayuran, Kepala Subbagian Tata Usaha BRMP Sayuran, Makful, S.P., M.Si., menekankan pentingnya penyusunan standar mutu bawang putih yang mampu mendukung agenda strategis pembangunan pertanian nasional.
“Bawang putih merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat strategis. Dalam beberapa tahun terakhir, komoditas ini telah menjadi salah satu fokus strategis nasional, khususnya dalam upaya menuju pencapaian swasembada bawang putih nasional,” ujar Makful.
Ia menjelaskan bahwa penyusunan RSNI Bawang Putih tidak hanya diarahkan untuk menetapkan persyaratan teknis produk, tetapi juga untuk memberikan kepastian mutu, mendukung keamanan pangan, serta memberikan perlindungan bagi produsen dan konsumen.
“FGD penyusunan konsep RSNI ini dilaksanakan untuk memastikan bawang putih yang dihasilkan memiliki mutu yang baik dan aman untuk dikonsumsi. Standar ini diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai persyaratan mutu produk sekaligus mendukung peningkatan daya saing bawang putih nasional,” tambahnya.
Menurutnya, aspek keterterapan juga menjadi hal penting dalam penyusunan standar. Standar yang dihasilkan diharapkan tidak hanya memenuhi aspek teknis, tetapi juga dapat diterapkan oleh para pelaku usaha di lapangan.
“Kita tentu berharap standar yang dihasilkan nantinya bukan hanya baik secara teknis, tetapi juga implementatif dengan mempertimbangkan kondisi serta kemampuan para pelaku usaha, khususnya petani dan produsen,” tegas Makful.
FGD yang dipandu oleh Dr. Eti Heni Krestini, S.P., M.P. sebagai moderator tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, pakar, dan pemangku kepentingan, antara lain Prof. Dr. Awang Maharijaya, S.P., M.Si. dari IPB University, Ir. Mudatsir, M.P. dari ASBATI, Tim Teknis Hortikultura 65-15, serta tim konseptor RSNI.
Pembahasan dilakukan secara partisipatif dan komprehensif dengan membahas berbagai aspek dalam konsep RSNI Bawang Putih, meliputi persyaratan mutu, pengkelasan (grading), ukuran, toleransi mutu, metode pengujian dan pemeriksaan, pengemasan, penandaan dan pelabelan, serta aspek higiene bawang putih konsumsi segar.
Melalui FGD ini, berbagai masukan dari pakar, pelaku usaha, pemerintah, serta pemangku kepentingan terkait diharapkan dapat memperkaya dan menyempurnakan konsep RSNI Bawang Putih. Selanjutnya, konsep tersebut diharapkan dapat menjadi acuan standar yang mampu menjamin mutu dan keamanan bawang putih konsumsi sekaligus mendukung peningkatan daya saing dan keberlanjutan usaha bawang putih nasional.