BRMP Sayuran Terima Kunjungan Prof. Watanabe & JATAFF, Bahas Kolaborasi Hortikultura
Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran (BRMP Sayuran) menerima kunjungan dari dua Prof. Kazuo Watanabe dari Universitas Tsukuba yang juga bertindak sebagai penasehat proyek Hirata, serta Mr. Akira Nagata dari Japan Association for Techno-Innovation in Agriculture, Forestry and Fishery (JATAFF).
Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka observasi lapangan terhadap produksi buah-buahan beriklim sedang seperti apel, kesemek, dan strawberry.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rencana program pelatihan yang akan berlangsung di Universitas Tsukuba, di mana salah satu institusi BRMP direncanakan dapat berpartisipasi sebagai peserta pelatihan. Rangkaian kunjungan mencakup lima UPT BRMP, yaitu BRMP Jeruk dan Buah Subtropika, Pemanis dan Serat, Aneka Kacang, Sayuran, serta Rempah dan Obat.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Watanabe mengungkapkan ketertarikannya untuk meninjau secara langsung budidaya strawberry di kawasan Lembang, sekaligus mengamati varietas-varietas yang dikembangkan. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke laboratorium dan screen house kentang di BRMP Sayuran, serta empat lokasi pertanian strawberry milik masyarakat.
Dalam diskusi, Prof. Watanabe menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan genetik tanaman yang sangat besar, yang membuka peluang untuk dikembangkan menjadi produk hortikultura unggulan, termasuk untuk ekspor. Ia juga memperkenalkan varietas kentang dari Jepang, Nagasaki Kogane, yang diketahui memiliki ketahanan terhadap penyakit seperti Ralstonia dan nematoda, serta cocok untuk lingkungan tropis yang lembap. Selain kentang dan strawberry, beliau dan Mr. Nagata juga menunjukkan minat terhadap pengembangan ubi jalar.
Kunjungan ini turut memperkuat kerja sama dengan Hirata Corporation yang saat ini tengah berkolaborasi dengan BRMP dalam eksplorasi sumber daya genetik bahan mentah untuk pengembangan produk pangan fungsional, kosmetik berbasis tanaman dan bahan farmasi. Atas rekomendasi BRMP, Prof. Watanabe juga meninjau peluang kerja sama lebih lanjut untuk pengembangan komoditas hortikultura lokal, khususnya varietas sayuran yang memiliki nilai ekonomi dan daya adaptasi tinggi.